Headlines News :
Home » » Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part I )

Catatan Perjalanan : Wisata Pulau Samosir , the Heaven of North Sumatra (Part I )

Written By abdul karim on Wednesday, 24 September 2014 | 22:00


Debat Kecil
Hampir satu jam aku dan sahabatku Rudi Hartoyo berunding disebuah mini resto di Jl. HM. Jhoni Medan, kami masih berdebat sengit tentang destinasi yang akan kami kunjungi besok. 
Diskusi kecil dan dadakan bersama Rudi 

Perdebatan positif ini malah berujung pada kondisi setengah gendeng, brosur Samosir yang kutatap di notebook hitamku cukup untuk menyihir pemikiran kami untuk meruncing pada satu tujuan "Pulau Samosir" ,

"Jadi gimana .? Langkat , Karo atau Samosir ? " kataku
"ya Sudah Samosir saja " jawab Rudi pasrah

 keputusan kepepet ini sudah menjadi bulat , persiapan dadakan dimulai. Malam ini kami tidur di tanjung Morawa .  Suasana masih sepi, liburan masih berlanjut. 
Packing and Preparing

Masyarakat kota masih sibuk meninggalkan daerah mereka untuk rekreasi alam atau berbaur di kampung halaman.


Dinihari

Jam sudah menunjukkan pukul 2.15 Dinihari , Rudi yang mengalami sedikit insomnia membangunkanku terlebih dahulu. sepertinya gerombolan nyamuk musim kering tetap beredar disekitar ruangan ini. pastinya mengganggu kenyamanan tidur temanku yang mungil ini. Pukul 2.30 kami langsung menembus kabut 1/3 malam terakhir. Suasana jalan tidak terlalu padat , lampu-lampu jalan masih mengabur kuning dari kejauhan. Aku tidak percaya , kami harus menaklukkan jalinsum dengan cara yang sedikit sinting. ditambah lagi sepeda motor yang cukup kencang membuatku sedikit gamang di perlintasan gelap Serdang bedagai. Kurang dari satu jam perjalanan kami sudah tiba di Kota Tebing Tinggi. Kota madya yang menonjolkan lemang sebagai oleh-oleh ikoniknya. Tapi kota ini masih sangat sepi , kami masih leluasa merayap kencang hingga menuju kota Pematang Siantar. Hanya butuh waktu 2 jam saja untuk tiba di Kota terbesar nomor dua di Sumut ini.
Adrenalin kami mulai diuji , jalanan masih terlalu gelap untuk dinikmati.

 Kondisi dingin menjelang subuh merupakan waktu yang paling ditakuti para pemudi , banyak kecelakaan terjadi pada jam-jam seperti ini. Rudi masih terus melaju dengan kecepatan tinggi , jalanan mulai dipadati mobil -mobil kecil dan besar yang hendak berangkat menuju kota Prapat, Sebuah kecamatan yang menjadi penghubung pertama antara danau Toba dan Pulau Samosir. Sejak zaman Belanda , nama Prapat sudah tidak asing didengar. Banyak turis-turis mancanegara yang berkunjung kemari. Walau tidak seindah dulunya , Prapat tetap menjadi tujuan favorit bagi masyarakat dan turis mancanegara untuk rekreasi ke Danau Toba. 
Gerbang Selamat datang di Prapat sudah muncul, pinus-pinus menghiasi kanan kiri jalan yang berkelok-kelok gelap seperti tak berujung. Rudi sudah kedinginan namun masih keras kepala untuk tidak bergantian mengemudi . 


Pagi ditiga raja 
Jam sudah menunjukkan pukul enam tepat , sepeda motor yang kami bawa masih sedikit miring mengitari tikungan-tikungan di Kecamatan Prapat, Rasa lelah setelah perjalanan sedikit terobati oleh tasik toba indah yang muncul setelah barisan-barisan pinus pergi meninggalkan kami.Disamping kanan jalan raya, Berjejer warung-warung kecil yang berdiri lembut dibibir penatapan danau toba. Hampir tidak dapat dipercaya, letusan super volcano yang meletus 75.000 tahun dibayar mahal dengan munculnya danau toba ini. Airnya biru menghampar bagai permadani, bukit-bukitnya hijau bergelambir terukir indah oleh alam.  Imajinasiku buyar, Rudi memarkirkan motornya kesamping kanan jalan, kami singgah di Mesjid At-Taqwa Prapat, Satu-satunya mesjid besar yang berdiri dijantung kota prapat. 
Suasana Penyebrangan Tiga Raja Prapat
Pagi di Tiga Raja 

Setelah selesai menunaikan sholat subuh dan sarapan , Rudi mulai berisik mendesakku untuk ke dermaga. Keingintahuannya yang membesar membuat ketenanganku sedikit terganggu. 

“Cepat rim, nanti terlambat kita” desak rudi
Sudah tenang saja kau rud, ini bukan pertama kali aku seni “ucapku.

Namun sikapnya bukan mereda , malah berbicara  semakin ngotot, aku harus bersikap mengalah kali ini. Tanpa basa basi , Kami tancap gas menuju dermaga yang ada di  prapat. 

Sebenarnya ada 2 dermaga umum  yang ada di Prapat ini, pertama bernama  Ajibata dan yang kedua tiga raja. Kedua tempat penyebrangan kapal ini memiliki karakter yang berbeda, sesuai kebutuhan wisatawan. Kalau anda menginginkan feri penyebrangan yang  khusus untuk mengangkut mobil dan rombongan besar , mungkin ajibata bisa menjadi pilihan bagi kita. Karena dermaga ini menyediakan kapal fery besar untuk mengangkut para penumpang 
Namun jika hanya menginginkan kapal yang lebih kecil , sederhana dan murah, mungkin dermaga tiga raja bisa menjadi alternatif. Karena kami menyesuaikan dengan kebutuhan , maka dermaga tigarajalah yang kami pilih. 
Feri Penyebrangan Tiga Raja
Di Depan Feri Kecil Tiga Raja 

Setiap satu jam sekali hingga pukul 17.00 , Tiga raja melayani rute Tigaraja-Tomok dan Tigaraja-Tuktuk.  Tarifnya hanya 8000 rupiah saja untuk sekali penyebrangan. 
Kami adalah rombongan pertama dari rombongan  KMP ( Kapal Muatan Penumpang) Adinda,  suara alarm berbunyi kencang, menandakan kapal sebentar lagi akan berangkat. Motor kami pun diangkut salah satu kernet kapal. 
Bismillah....Kapal ini mulai berangkat memecah ketenangan air danau toba yang indah. 
Tomok And the Stories
Tomok adalah salah satu desa wisata di Pulau samosir, letaknya yang menjadi gerbang pertama setelah berangkat dari prapat menjadikan desa ini lebih dikenal dibanding objek wisata yang lain di Pulau samosir ini, selain daerahnya yang mudah dijangkau, disini pulalah pusat souvenir khas danau toba. dan kali ini tomoklah yang menjadi tujuan pertama kami.  Kurang lebih 45 menit kami harus bersabar menunggu diatas kapal sambil mendengar dendang-dendang musik country khas batak. Dari irama khas Victor Hutabarat  aku dan rudi menikmati  irama perjalanan. Tanpa terasa bibir kapal mulai merapat kepinggir barisan bebatuan. Kami pun turun meninggalkan kapal  terhenti sambil menurunkan jangkar . 

Desa Tomok Pulau Samosir

                         Pusat Souvenir Desa Tomok

Setelah memarkirkan motor di tempat yang kami karas tepat, kami langsung berjalan menuju kios-kios souvenir Danau Toba. Jam masih menunjukkan pukul 07.30 dan Pasar-pasar souvenir di Desa ini masih terlihat lengang dan sepi . Ada beberapa inang-inang yang sudah membuka toko dan ada beberapa diantaranya pula yang masih tertutup dan belum bangun
. Ditengah perjalanan ada sebuah gerbang batu yang berisi anak-anak tangga menuju tempat yang lebih tinggi. Tempat ini adalah tempat pemakaman Raja Sidabutar, penguasa desa tomok di Abad 15 . Terdapat berbagai pahatan-pahatan batu yang berjejer di sini. Salah satu krama adat sebelum memasuki komplek pemakaman ini harus menggunakan ulos sebagai syarat masuk, tidak perlu khawatir jika anda tidak membawa kain khas batak ini, karena didepan gerbang telah tersedia ulos-ulos yang bertumpuk dan siap digunakan bagi para wisatawan  . Di situ terdapat penjaga makam yang dengan sukarela menceritakan sejarah dari raja Sidabutar ini. Tidak ada pungutan biaya masuk , hanya kotak amal yang dapat disi Secara Suka Rela.  Bersambung ke Wisata Pulau Samosir , The Heaven of North Sumatera (Part II) 
Share this article :

3 comments:

  1. apa kamu siap untuk perjalanan kita ke samosir lagi? Samosir part II?

    ReplyDelete
  2. mau tanya.. kalo ke salju panas dr medan lewat mana ya kalau dgn mobil? soalnya dr padang bawa mobil hehe makasih yaa

    ReplyDelete

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Catatan Karim - All Rights Reserved
Template Design by Creating Website Published by Mas Template